February 10th, 2008

Pindah enggak pindah enggak pindah?

Beberapa hari ini teman-teman di kantor sedang kasak-kusuk membicarakan gossip bahwa kantor mau pindah tempat, selama ini kita sudah hampir 5 th sewa space di Nugrasantana Sudirman, eh kemudian dari boss ada ide mau beli satu space di City Loft Sudirman biar nggak nyewa2 space kantor lagi maklum overtime mahal….
Dan Sontak kita semua jadi berangan-angan ngantor di apartemen hehehe… biar lebih kecil tapi nggak nyewa lagi dan nggak kena charge overtime kalau lembur-lembur terus…

kira-kira jadi nggak ya?

August 14th, 2007

I Hate This

I Hate this….
Akhir-akhir ini aku nggak fokus banget, nggak tau nih pikiran lagi kemana, kerjaan-kerjaan kantor banyak yang miss dan wasting time…  mungkin saatnya take a break sedikit ya… bikin sesuatu yang bikin fresh otak kita… ada ide nggak?

May 30th, 2007

Indonesian Comics: Quick Komik Queries with: Agung ‘Komikaze’

Indagung_che_2

Agung ‘Komikaze’ is a comic artist, illustrator and web designer. We caught up with him at the ‘PKAN 4′ Indonesian National Convention of Comics and Animation, in Yogyakarta, Indonesia.

John Weeks: Komikaze is a website for Indonesian comics?

Agung Komikaze: Yes, I think so; but it’s not only Indonesian comics but it can be local underground comics too.

JW: When did you start Komikaze ?

AK: I start Komikaze as a project beginning from 1999.

JW: Wow. And how has it been received?

AK: …beginning first with a small komik. Referendum about East Timor. After that in 2000, I start to do the website and focus on the medium. So the focus is, yes, independent media.

JW: There are not many Indonesian comics websites. Is it difficult to do?

AK: It’s not so difficult. I learn by myself, and just…GO.

JW: You also done komiks of your own. Does the website take time away from that?

AK: Not really. I’m still doing print komiks. Just go on internet and write something, do something…

JW: I’ve seen Haram Jadah [a comics commentary magazine] and also ‘Drop Out For Beginners’. You’ve also appeared in Daging Tumbuh ['Diseased Tumor'] and Blank Magazine. When did you start doing underground small press komiks?

AK: I start making komiks in high school for fun, and I distribute to close friends.

I start making self-published underground komiks from 1988. I start with some friends who have some ideas…

We look at komik as a medium, not just a project. We can express our thought, we can express our art sense, like that.

JW: Have you gone to art school? I notice ‘School is Dead’ - this reflects your thoughts on school? Can you tell us how this title came to be?

AK: I was in Gadjah Mada University, I took sociology.

JW: So you are a ‘Komik Sociologist’.
(Laughter)

AK: Yep! But ah, I never finished my college. I go to art school too, I study graphic design for one year.

In college I have activity in journalism - college magazine from 1994 to 1998.

JW: And now ‘School is Dead’?

AK: It’s just a reflection about what’s going on in Indonesia right now, school is very expensive, not many can access the education. I think Indonesia needs to make education cheap. For everybody.

JW: You’ve been doing seminars at this [PKAN 4] convention - ‘School is Dead’, but teaching is free. And you also produce teaching texts: Che Guevara for Beginners. Can you tell us about that?

AK: I have friends from NGOs , very interested in alternative published books; left issues. I just help them to publish, this book came out this year. The convention is announcing it [the release].

JW: Always good to have a new book for the convention!

This interview was taken form www.silverbulletcomicbooks.com
Read the original here: http://www.silverbulletcomicbooks.com/smallpress/107096198710775.htm

March 27th, 2007

MY MONSTERIUS

hey this is my personal artwork, …. enjoy!! :) i call this monsterius!
please visit my personal gallery on http://deadschool.deviantart.com for complete artwork

Monsteriusweb_1

December 5th, 2006

THE DAGING TUMBUH: THE MAGIC OF PHOTOCOPY

Agung Komikaze
artikel untuk Majalah Matabaca edisi komik, Juli 2005


Yogyakarta menjelang akhir 90an adalah masa-masa yang menggairahkan
bagi tumbuhnya komik-komik underground atau juga dikenal akrab sebagai
komik fotokopian. Saya masih ingat nama core comic dan apotik komik
yang dipelopori mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
sempat menginspirasi tumbuhnya komik-komik fotokopian yang serupa. Saya
yang terbiasa membaca komik-komik jepang, dan yang paling populer waktu
itu adalah Kung Fu Boy menganggap komik-komik semacam itu hanya komik
main-main dan iseng belaka. Seperti halnya pembaca-pembaca awam
lainnya, komik ya harus bagus gambarnya dan ceritanya menghibur. Itulah
kesan yang saya tangkap pertama kali membaca kompilasi Core Comic yang
dibawa teman saya. Dalam hati, saya heran komik yang dibikin oleh
mahasiswa-mahasiswa ISI kok malah gambarnya amburadul banget, padahal
kan mereka seharusnya jago menggambar. Begitu pula pameran dan diskusi
yang membahas fenomena komik fotokopian pun makin sering digelar di
Yogyakarta. Jumlah eksemplar yang sedikit dan distribusi yang sangat
terbatas membuat saya kesulitan mencari komik-komik nyleneh tersebut,
tetapi anehnya makin lama makin membuat saya penasaran dengan
komik-komik tersebut. Bahkan ketika saya mendapatkan satu kopian komik
tersebut rasanya jauh lebih puas daripada membeli komik Kung Fu Boy di
toko Gramedia sekalipun. Gila men! ada apa dengan komik-komik ini.
Bahkan gerakan komik-komik fotokopi tersebut juga membuat saya
terdorong membuat komik sendiri dan menerbitkannya sendiri dengan mesin
fotokopi. Sejak saat itu saya ngefans dengan para artist komik
fotokopian seperti Samuel Indratma, Bambang Toko, Popok, Arie (Apotik
komik), Beng Rahadian, Nano Warsono, Ones (Teh Jahe), Athonk (Pure
Black), dan kelompok Taring Padi yang rata-rata mereka semua
mahasiswa-mahasiswa ISI. Saya tidak mengenal mereka secara pribadi tapi
melalui karya komik mereka.

Setelah
beberapa lama para komikus tersebut mulai vakum menerbitkan komik baru
hingga pada Agustus tahun 2000 saya membaca Aikon sebuah media
kebudayaan yang dibagikan gratis, sampul depannya memuat sebuah gambar
mirip kaleng atau buntelan daging kemasan bergambar buah-buahan
bertuliskan “segar” dan “daging tumbuh” dengan warna hijau segar
dominan di latar belakangnya. Setelah saya buka lebih dalam tertulis
sampul muka adalah cover komik kelompok komik Daging Tumbuh volume 1
juni 2000. Saat itu saya belum kenal seperti apa isi si Daging Tumbuh
ini, tapi nama Segar dan Daging Tumbuh sendiri benar-benar telah
terekam dan mengganggu otak saya. Beberapa bulan kemudian (November
2000) Aikon memuat tulisan tentang komik alternatif anak-anak
Yogyakarta dan salah satunya Daging Tumbuh dengan nama Eko Nugroho
sebagai pentolan kelompok ini. Tapi tetap saja saya kesulitan mencari
produk Daging Tumbuh yang belakangan saya tahu edisi 1 bertitel Segar
ini diterbitkan dengan jumlah yang tidak lebih dari 25 eksemplar.
Ketertarikan saya makin menjadi-jadi hingga pada bulan Mei 2001 sebuah
hajatan komik indie berjudul Kabinet Komik Indie diselenggarakan di
Gelaran Budaya Yogyakarta. Pada acara ini seolah kehausan saya terhadap
komik fotokopian terpenuhi, puluhan komik fotokopian digelar dan
disinilah saya menemukan Daging Tumbuh yang ternyata sudah terbit 2
edisi mau menginjak ke edisi 3. Saya juga bertemu dengan para artist
komik fotokopian (juga disebut komik indie) yang selama ini saya
kagumi, termasuk Eko Nugroho yang kelak dikenal sebagai The Eko
Nugroho. Ketika melihat kompilasi Daging tumbuh ini saya terkesima
dengan keliaran-keliaran isinya, sangat berantakan semaunya sendiri,
vulgar campur aduk, dan melihat ketebalan kompilasi ini yang mencapai
hampir 200 halaman tentu terlihat lebih gemuk dibanding komik-komik
indie lain yang rata-rata berisi 20 – 80 halaman saja. Sampul depan
digarap dengan serius dari pilihan jenis kertas dan eksplorasi cetak
sablon membuat taste yang unik dan beda dibanding komik indie lain yang
jumlah halamannya sedikit dan sampulnya juga digarap seadanya. Saya
menangkap kesan sebuah karya yang hancur-hancuran mendekonstruksi
aturan baku komik tapi dikemas serius, ya… anak-anak ini memang
serius untuk hancur!

The Eko Nugroho
Daging Tumbuh tidak
bisa lepas dari nama Eko Nugroho, sosok perupa muda masih kuliah di
jurusan seni lukis ISI yang menggagas terbitnya komik Daging Tumbuh
serta mengangkat dirinya sendiri sebagai Presiden Daging Tumbuh. Jika
ingin memahami Daging Tumbuh kita harus juga memahami isi otak manusia
bernama Eko Nugroho ini. Saat bertemu dengan Eko pertama kali, bayangan
yang selama ini ada di kepala saya sebelum bertemu dengannya buyar.
Saya dulu membayangkan sosok Presiden Daging Tumbuh ini adalah seorang
seniman sangar berambut gimbal berpakaian kumal dan tidak pernah mandi,
pokoknya identik dengan yang brutal-brutal deh. Begitu saya bertemu
dengannya semua bayangan tadi buyar, saya menemukan sosok biasa-biasa
saja agak nylekuthis, tidak ganteng, tidak gondrong, suka
senyum-senyum, sopan, ramah, suka bercanda, suka pakai kaos oblong dan
celana training. Lebih surprise lagi mahasiswa seni lukis ISI angkatan
97 ini sudah punya istri dengan dua anak dan sangat mencintai
keluarganya melebihi cintanya terhadap Daging Tumbuh.

Berawal
dari pertemuan di Kabinet Komik Indie, intensitas pertemuan saya dengan
Eko Nugroho mulai meningkat. Tak lama setelah acara itu Kompilasi edisi
3 Daging Tumbuh berjudul “Menggergaji Es Jeruk” terbit setelah edisi 1
“Segar” dan edisi 2 “Presiden vs Komik” terbit lebih dulu. Saya mulai
mengenal beberapa seniman di komunitas Daging Tumbuh yang rajin menjadi
kontributor seperti Wedhar Riyadi, Codit, Heri Cepuk, dan Surajiya.
Nama Daging Tumbuh pun mulai dikenal di kalangan komunitas komik dan
seni rupa di Yogyakarta. Fleksibilitas Eko Nugroho dalam membangun
jaringan dengan beberapa kalangan dari komunitas seni di Yogyakarta
semakin memperkaya nuansa Daging Tumbuh dengan hadirnya perupa-perupa
sekelas Eddie Hara, Agung Kurniawan hingga Mela Jarsma terlibat jadi
partisipan di beberapa edisinya.

Ketika menyiapkan edisi ke
empat bertajuk “Sirkus” akhir tahun 2001 saya makin sering bertemu
dengan Eko Nugroho ketika dia meminta saya menulis kata pengantar untuk
edisi tersebut. Saya mulai mengenal lingkungan kehidupan Eko ketika
bertandang di rumahnya. Eko waktu itu masih tinggal di sebuah kamar
kontrakan kecil di kampung Prawirodirjan sebuah pemukiman padat di
pinggiran sungai Code. Melewati gang-gang kecil berliku hingga saya
harus menuntun motor untuk sampai ke kontrakannya. Di kamar kontrakan
yang disekat menjadi ruang tamu dan kamar tidur dengan dapur kecil di
sampingnya, Eko menyambut saya dengan ramah dan seperti biasa dengan
canda dan ketawanya. Mbak Mita istri Eko Nugroho menyiapkan segelas teh
manis panas kami bercengkrama sambil sesekali Eko bercanda dengan dua
anak perempuannya yang berseliweran di pangkuan bapaknya. Kampung
Prawirodirjan adalah tempat Eko Nugroho tumbuh dan berkembang dalam
kehidupan masyarakat kelas bawah pinggiran sungai Code. Eko menemukan
banyak ide dan inspirasi dari kehidupan lingkungan tempat dia tinggal.
Selain kuliah dan menjadi kepala keluarga, Eko sejak dulu suka
menggambar kartun dan karyanya beberapa kali dimuat di majalah humor.
Selain itu Eko sempat mengajar menggambar di Yakkum tempat rehabilitasi
anak-anak penyandang cacat kemudian menjadi ilustrator lepas untuk
penerbitan buku dan beberapa media kebudayaan. Kesibukan-kesibukan dan
rutinitas sehari-harinya tidak mengurangi intensitas kerja seninya. Eko
masih melukis, membuat drawing, membuat komik dan menjadi seniman mural
terlibat dalam beberapa proyek seni mural di Yogyakarta. Bagi Eko kerja
seni adalah sebuah bentuk komunikasinya dengan publik. Saya ingat
ketika kami dengan senang hati melukis dinding-dinding sekolah TK di
pelosok desa Magelang atas undangan mahasiswa KKN di sana. Eko
menikmati pekerjaan seni publiknya dengan tulus dan apa adanya, cukup
dengan segelas the manis, gorengan dan makan siang maka semua akan
happy-happy saja. Semakin banyak orang yang merespon seni publiknya
(mural) semakin mengasikkan begitulah dia menikmati kerja seninya.

Gagasan
awal terbitnya Daging Tumbuh pada mulanya adalah berawal dari
kegelisahan mahasiswa senirupa ISI yang ingin sekali berpameran tapi
tidak mampu mengakses ruang-ruang pameran di galeri. Eko menawarkan
konsep galeri kertas bernama Daging Tumbuh, yang tak lain adalah ruang
pamer bagi mahasiswa senirupa tersebut untuk berekspresi dan memamerkan
karyanya. Beberapa partisipan tersebut masing-masing iuran untuk biaya
produksi edisi pertama kemudian hasil penjualan edisi pertama akan
digunakan untuk biaya produksi edisi 2 dan seterusnya tiap edisi akan
mensubsidi edisi berikutnya. Daging Tumbuh akhrinya berkembang dengan
menerima partisipan secara lebih luas, bagi siapa saja yang ingin
berkarya silahkan mengirim karyanya yang sudah difotokopi plus iuran
produksi. Kegigihan Eko untuk menerbitkan Daging Tumbuh secara rutin
tiap 6 bulan adalah nyawa kelangsungan Daging Tumbuh. Berbagai cara
dilakukan Eko agar Daging Tumbuh bisa terbit, selain hasil penjualan
edisi-edisi sebelumnya dan iuran para partisipan, Eko juga sanggup
membangun jaringan donatur yang tertarik dengan keunikan Daging Tumbuh
untuk membiayai ongkos produksi tiap edisinya. Eko bahkan berteman
akrab dengan operator mesin fotokopi yang dia panggil mas sumo karyawan
sebuah copy center di Yogyakarta tempat Daging Tumbuh digandakan.
Hingga saat ini (2005) telah terbit sampai edisi 10. Sebuah perjalanan
panjang selama 5 tahun menjaga kontinuitas terbit Daging Tumbuh di
sela-sela kesibukannya sebagai suami dan ayah dua anak. Nama Daging
Tumbuh pun melesat menjadi ikon komik underground bersama Eko Nugroho.

The Daging Tumbuh
Melihat
dari awal terbitnya hingga mencapai edisi 10, tentu bukan hal yang
mudah sebuah buku kompilasi sanggup bertahan. Edisi-edisi awal Daging
Tumbuh adalah edisi-edisi favorit saya karena orisinalitas semangatnya.
Pada Edisi-edisi awal ini saya melihat semangat seni rupa yang kental
mengambil medium yang identik dengan komik. Mau tak mau Daging Tumbuh
disejajarkan dengan komik-komik underground pendahulunya seperti Core
Comic dan Apotik Komik, meski konsep Daging Tumbuh sendiri adalah
galeri kertas. Pengakuan Daging Tumbuh justru terlebih dahulu muncul di
komunitas komik indie Yogyakarta. Konsistensi Daging Tumbuh sebagai
galeri kertas pun akhirnya diakui di kalangan komunitas seni rupa.
Daging Tumbuh dan Eko Nugroho akhirnya sering mendapat kesempatan
berpameran, salah satunya di Biannale Seni Rupa di Gedung Taman Budaya
pada pertengahan 2004 lalu.

Proses kerja dan spirit penerbitan
Daging Tumbuh yang saya ikuti sejak edisi awal hingga yang terakhir
adalah sebuah proses pembentukkan karakter, idiom bahkan ideologi yang
secara tidak sengaja mengalir dan terbentuk begitu saja tanpa ada
pretensi apa-apa keculai semangat bermain-main yang dihidupkan oleh
sang Presiden Daging Tumbuh sendiri. Dalam proses tersebut akhirnya Eko
menemukan mesin fotokopi sebagai basis ide kreatifnya. Pada akhirnya
Daging Tumbuh identik dengan Eko Nugroho sekaligus identik juga dengan
mesin fotokopi. Bahkan Eko sempat menggelar Daging Tumbuh Award untuk
karya-karya yang dihasilkan dengan reproduksi mesin fotokopi. Bagi
komik-komik indie lain mesin fotokopi mungkin hanya dipandang sebatas
alat untuk menggandakan saja, tapi bagi Daging Tumbuh fotokopi adalah
pusat kesadaran bahkan mungkin sebagai sebuah ideologi dalam berkreasi.

Saya
lebih memahami Daging Tumbuh dengan ideologi fotokopinya sebagai sebuah
permainan untuk menjungkirbalikkan apa yang selama ini dimapankan oleh
sistem. Persoalan hak cipta, logika pasar, bahasa-bahasa baku semuanya
diobrak-abrik tanpa beban oleh Daging Tumbuh. Nama Daging Tumbuh yang
identik dengan penyakit dan sedikit berkonotasi menjijikkan menjadi
lazim diucapkan sebagai bentuk karya seni. Saya tidak begitu paham
teori-teori mutakhir filsafat, seni rupa, bahkan semiotika untuk
menganilisis fenomena ini tapi setidaknya Daging Tumbuh berhasil
mempermainkan makna bahasa yang sudah baku menjadi makna baru. Bukan
hanya pembentukan makna baru tetapi menihilkan rangkaian kalimat
menjadi absurd tanpa makna, seperti tema “Menggergaji Es Jeruk”,
“Tendangan Maut Nanas Muda”, “Merobohkan Kelenjar Hari Libur” bahkan
dengan enaknya mereka mengejek nama-nama band terkenal luar negeri yang
sedang ngetrend diikuti band-band Indonesia berawalan the (the doors,
the beatles dll) dengan cara mengadopsi untuk nama mereka sendiri
menjadi The Daging Tumbuh, The Eko Nugroho, The Paijo, The Mulyono dst.
Proses main-main inilah yang membentuk struktur pemaknaan baru yang
khas Daging Tumbuh. Menikmati Daging Tumbuh adalah bukan hanya
menikmati sebuah kompilasi seni visual (komik?) dalam bentuk buku tapi
sekaligus menikmati idiom-idiom baru, plesetan makna, kebebasan
bermain-main dan berkreasi di luar isi kompilasinya sendiri.

Daging
Tumbuh hanya dicetak sebanyak 200 eksemplar saja dan dipersilahkan
untuk dibajak bagi mereka yang kehabisan. Bahkan mereka yang mau
membajak boleh membeli sampul aslinya selama persediaan masih ada. Eko
tidak akan mencetak lebih dari 200 buku meski tiap edisi Daging Tumbuh
pasti sold out! Mekanisme distribusinya pun dengan cara independen
lewat distro, pameran komik, dari tangan ke tangan, bikin acara
launching bahkan saya bersama Eko and his gank sempat mengasongkan
Daging Tumbuh di pinggir jalan boulevard UGM, waktu itu dari hasil
mengasong Daging Tumbuh cuma laku dua biji itu pun yang beli ibu-ibu
berjilbab dan bapak-bapak tua, mungkin mereka kasihan atau takut ada
orang gila teriak-teriak jualan Daging Tumbuh!

Hal lain yang
juga ditunggu-tunggu oleh penggemar Daging Tumbuh yang dinamai oleh Eko
sebagai the lendir (sebutan bagi pembaca daging tumbuh) adalah
merchandise Daging Tumbuh yang menyertai setiap terbitannya.
Barang-barang merchandise tersebut hebatnya adalah juga partisipasi dan
support dari mereka penikmat Daging Tumbuh. Mereka rela mencetak
stiker, kartu pos, membuat pin, membuat mainan anak-anak untuk
disisipkan sebagai merchandise Daging Tumbuh. Saya kadang heran dan
takjub kok mau-maunya mereka keluar uang membuat barang-barang itu
untuk disisipkan. Bahkan ada yang mau repot membuat rokok sendiri
sebagai merchandise dengan nama “rokok penghancur paru-paru sangat
cocok untuk penderita asma”, dan lebih sadis lagi mereka yang membeli
daging tumbuh rela dibilang dungu oleh Eko, bagaimana tidak? Di
kemasannya tertulis “Hei Dungu!! Ada merchandise di dalam!

Cara
Daging Tumbuh memandang, mengejek dan mempermainkan struktur dan relasi
makna yang sudah baku membuatnya memiliki logika dan cara berkomunikasi
sendiri. Daging Tumbuh tidak butuh laku ribuan eksemplar, tidak butuh
keuntungan finansial, tidak butuh membayar para kontributornya (bahkan
para kontributor yang membayar iuran ke Daging Tumbuh), Daging Tumbuh
berhasil membangun komunitasnya sendiri meski masih terpusat pada figur
seorang Eko Nugroho yang menjadi jangkar bagi para
partisipan-partisipan Daging Tumbuh. Mereka sering bekerjasama dengan
Eko Nugroho dalam proyek seni Daging Tumbuh di luar penerbitan rutin.
Proyek mural dan pameran instalasi adalah salah satu pelebaran kegiatan
seni dari kelompok yang berbasis dari sebuah penerbitan kompilasi
bernama Daging Tumbuh ini. Saya berpikir Daging Tumbuh punya potensi
berkembang menjadi sebuah kantung seni budaya jika komunitas ini terus
berkembang dan Eko Nugroho sanggup memfasilitasi Daging Tumbuh bukan
hanya sekedar memproduksi buku kompilasinya tapi melebarkan ke
wilayah-wilayah ekspresi seni lainnya. Sejauh ini Eko sudah cukup
membangun kerjasama dengan partisipan-partisipan di luar seni rupa
untuk terlibat. Pada edisi 3, Daging Tumbuh bekerja sama dengan
beberapa musisi eksperimental dan menelorkan album soundtrack Daging
Tumbuh yang menyertai penerbitannya dalam bentuk kaset. Begitu juga
pada edisi 9 Daging Tumbuh bekerjasama dengan beberapa band indie
membuat album kompilasi melibatkan tiga kelompok band (Sameoldshit, The
Manyoones dan The Harmonic Orchestra) yang disertakan sebagai bonus
edisi tersebut dalam bentuk CD.

Dari sini saya bisa melihat
Daging Tumbuh bukan hanya sekedar kompilasi tapi bisa berkembang
menjadi sindikasi ekspresi seni di luar mainstream. Jika kita mengikuti
dari edisi ke edisi banyak sekali iklan-iklan di Daging Tumbuh yang
diisi dari kelompok band, distro, zine, kelompok pekerja desain,
clothing sampai penerbit alternatif. Daging Tumbuh tidak menerima uang
untuk pemasangan iklan, cukup barter produk atau barter iklan dan hanya
mereka yang bergerak independen yang bisa memasang iklannya di Daging
Tumbuh. Proses interaksi seperti inilah yang membuat Daging Tumbuh
memiliki captive marketnya sendiri.

The Magic of Photocopy
Daging
Tumbuh identik dengan fotokopi, sebuah mesin yang mungkin selama ini
hanya dianggap sebagai alat pengganda dokumen dalam bentuk kertas. Pada
awalnya mesin ini hanyalah pengganda yang praktis untuk menerbitkan
Daging Tumbuh daripada dengan teknik cetak sablon atau offset, tetapi
kemudian konsep seni reproduksi fotokopi menjadi trade mark bagi Daging
Tumbuh. Fotokopi sudah menjadi seni di tangan Eko Nugroho dan
menerapkannya sebagai bentuk ekspresi yang masih bisa dieksplorasi
lebih jauh lagi. Daging Tumbuh telah menjadi media bagi seni fotokopi
itu sendiri. Jika saya mengamati perkembangan Daging Tumbuh beberapa
edisi terakhir sangat terasa penekanan pada eksplorasi seni menggunakan
mesin fotokopi. Saya melihat Daging Tumbuh sudah berkembang sebagai
seni fotokopi dan seni buku, meski citranya sebagai komik underground
atau pun komik seni diakui di beberapa kalangan komunitas komik.

Lebih
jauh lagi saya ingin melihat bahwa mesin fotokopi adalah sebagai salah
satu faktor distribusi pengetahuan yang praktis dan murah bisa
dijangkau oleh siapa saja. Hal inilah yang mendasari Eko Nugroho ketika
melihat begitu banyaknya pusat pelayanan fotokopi di kota Yogyakarta
dan menggunakannya sebagai alat penerbitan Daging Tumbuh. Mesin
Fotokopi telah menjadi agen penyebaran pengetahuan dimana sudah ribuan
sarjana dihasilkan dengan teknologi fotokopi yang melayani pengkopian
literatur, skripsi, thesis, bahkan catatan-catatan kuliah menjelang
ujian. Selama ini kita hanya menyadari mesin fotokopi hanyalah salah
satu alat untuk mengakses pengetahuan seperti buku-buku teks yang
harganya relatif mahal untuk bisa dinikmati dengan biaya relatif murah
melalui mesin fotokopi. Kita masih belum tergerak untuk memproduksi
sistem pengetahuan kita sendiri melalui cara mereproduksinya dengan
mesin fotokopi. Apa yang sudah dihasilkan Daging Tumbuh bukan hanya
sekedar eksplorasi seni dengan medium mesin fotokopi tapi juga
keberaniannya membangun sistem pengetahuannya sendiri dengan menjadi
penerbit independen.

Saya kira Daging Tumbuh tidak punya
tendensi apa-apa jika ditempatkan dalam peta gerakan komik di
Indonesia. Daging Tumbuh hanya bermain-main dan menciptakan dunianya
sendiri, terserah orang mau bilang apa yang jelas fotokopi lebih baik
daripada perang! Begitulah bunyi salah satu slogan Daging Tumbuh. Bisa
jadi slogan tersebut hanya sekedar main-main saja tapi itulah cerminan
sikap Daging Tumbuh. Mereka menolak hegemoni mainstream dengan caranya
sendiri.

Apakah Daging Tumbuh masih bisa terus menjaga
semangatnya, saya jadi teringat sang Presiden Daging Tumbuh empat tahun
lalu di kontrakan kecilnya di pemukiman pinggiran sungai Code, sekarang
kami sama-sama sibuk sehingga sudah jarang sekali bertemu. Terakhir
saya mengontaknya via internet…. apa kabar mas presiden? Dia masih
ramah menjawab…”Aku lagi golek upo nang Amsterdam” (Aku sedang
mencari sesuap nasi di Amsterdam), saya hanya tersenyum ….wah mas
Presiden Daging Tumbuh sedang berkunjung ke luar negeri,… it’s the
magic of photocopy!

artikel ini bisa juga diakses di:
http://komikaze99.multiply.com
http://www.akademisamali.org

November 26th, 2006

BUNG TEGAR… hidup itu seperti roda berputar

Saya mempunyai seorang teman, ya
sebut saja bung Tegar (ini nama samaran…), semoga beliau tidak keberatan
namanya saya ganti. Saya banyak belajar dari bung Tegar soal hidup dan cara dia
menghadapi hidup. Dia memang bukan
siapa-siapa tapi bagi saya pencapaian dan sikap hidupnya membuat saya memahami
apa arti keikhlasan hati menerima segala macam kenyataan dalam hidup. Bung Tegar
sadar dirinya juga bukan manusia sempurna, dia menerima ketidaksempurnaan
sebagai hal yang manusiawi tanpa harus kehilangan kepercayaan dirinya. Kita
semua pasti pernah bertindak bodoh dan membuat kesalahan, tapi kadang kita
berusaha melempar kesalahan-kesalahan kita sendiri sebagai akibat kesalahan yang
diperbuat orang lain. Kemudian kita menciptakan prasangka-prasangka buruk
terhadap orang lain dan menghakimi orang lain serta memelihara dendam dan
kebencian di dalam diri kita sendiri.

 

Bung Tegar pernah bilang bahwa
kebencian dan dendam yang kita pelihara justru membuat hidup kita tidak pernah
merasa nyaman. Bung Tegar selalu berusaha menjaga perkataan dan berhati-hati
dalam bicara. "Mulutmu, Harimaumu", begitulah kenapa dia sangat berhati-hati
menjaga tutur katanya meski suatu kali karena kesalahan yang tidak disengaja dia
pernah dimaki-maki orang dengan kasar.
Bung Tegar
mencoba tersenyum meski hatinya sakit sekali dimaki-maki dengan kata-kata kasar.
Bung Tegar tidak pernah membalas orang itu dengan balik memaki dengan kata-kata
kasar. Bung Tegar menahan rasa sakitnya sendiri, tetapi yang paling susah adalah
untuk tidak membenci orang yang telah menyakiti hatinya. Sebagi muslim Bung
Tegar percaya bahwa berdialog dengan Tuhan adalah obat mujarab menghilangkan
rasa benci dan dendam menjadi kelapangan hati dan keikhlasan. Masjid adalah
tempatnya berkeluh kesah kepada sang pencipta dalam tiap gerak dan lafal doa
yang mengiringi sholatnya.

 

Ya… roda
kehidupan terus berputar. Bung Tegar pernah dihina dan direndahkan ketika masih
susah hidupnya, tapi Bung Tegar tak pernah dendam dan benci karena hidup itu
seperti roda yang berputar, ketika kita di bawah, kesabaran kita diuji begitu
juga ketika di atas, jangan semena-mena dengan saudara-saudara kita yang di bawah
apa pun itu mereka manusia jangan direndahkan harga diri dan martabatnya. Bung
Tegar pernah merasakah bagaimana sakitnya diinjak-injak harga dirinya tetapi dia
tetap ikhlas, memang luka di hati itu bisa sembuh tapi bekas-bekasnya bisa
mengingatkan betapa perihnya luka itu. Syukurlah sahabat saya ini taraf
kehidupannya sudah membaik, dan yang saya suka, dia tidak pernah membalaskan
sakit hatinya meski orang-orang yang dulu menyakitinya sekarang berganti
terpuruk di bawah, tapi salut Bung Tegar malah mengulurkan tangannya untuk
membantu orang-orang yang dulu menyakitinya. Ketika saya bertanya dia hanya
menjawab,…memelihara kasih sayang dan keikhlasan itu membuat dunia menjadi
lebih indah untuk dihuni daripada memelihara dendam dan kebencian.
Hmmm… iya juga
ya?

October 8th, 2006

Jakarta 24 Hour Comic Day

Hari sabtu tanggal 7 Oktober lalu, Jakarta (bersama Bandung dan Surabaya) berpartisipasi dalam acara yang digelar serentak di beberapa kota seluruh dunia bertajuk 24 Hour Comic. Aku pertama kali tahu setelah dapat SMS dari Beng Rahadian beberapa hari sebelum pelaksanaan. Sangat menarik, tapi sayang aku sempet lupa tanggal pelaksanaan karena kesibukan di kantor dan sms dari Beng terhapus di handphone aku. Minggu pagi jam 4 (habis sahur) aku baru inget ketika di rumah warna aku tanya si dukun kemana, eh anak-anak bilang ke mampang ikut 24 hour comic day, wah sontak saat itu juga aku langsung jalan bareng ari, Faisal dan aris ke rumah Beng  yang jadi lokasi acara. Kebetulan jarak Rumah warna dengan Kediaman Beng n Lulu nggak jauh-jauh amat, jadi kita jalan kaki Pancoran-Mampang. Lumayan segar pagi-pagi subuh jalan-jalan sampai mampang.

Sampai di lokasi aku langsung naik ke kamar Beng, ternyata di sana ada Injun, Mas Wid, Arip Jengkol yang sedang sibuk menscan beberapa gambar yang udah jadi dan siap diupload ke internet. Sementara peserta di ruang bawah terlihat sebagian besar sudah terlelap dan hanya beberapa orang yang masih sibuk menyelesaikan komik nya. Si Beng aku cari-cari ternyata juga sudah tidur setelah menyelesaikan komik nya  jam 4 pagi. Zarki terlihat menyerah tidak bisa menyelesaikan komiknya.

Aku lihat temen-temen dan panitia sudah agak kepayahan karena hampir nggak tidur selama 24 jam (acara ngomik dimulai sabtu jam 7 pagi berakhir minggu jam 7 pagi), akhirnya aku putuskan take over tugas uploading gambar ke web  http://komik24jam.multiply.com  sebagai bagian dari gerakan serentak di seluruh dunia. Sementara official website nya berada di www.24hourcomics.com  yang berisi update acara dari seluruh lokasi di dunia. Bareng Arip Jengkol aku stand by di warnet daerah kemang untuk mengupload satu-satu gambar komik perserta yang sudah selesai. Mereka harus menyelesaikan 24 halaman komik dalam waktu  maksimal 24 jam, beberapa peserta berhasil dan beberapa gagal menyelesaikan 24 halaman tepat pada waktunya. Beberapa halaman belum selesai atau belom terscan membuat arip harus bolak-balik lokasi-warnet sementara aku tetap stand by di warnet. Menjelang jam 10 kiriman terakhir datang juga, Arip datang bersama Lulu Ratna yang juga membuat film doklumentasi untuk acara ini. Gambar-gambar terakhir pun segera diupload, Lulu menulis report untuk official web site pusat 24 hour comics.

Menjelang  jam 11 siang semua selesai, Aku, arip dan Lulu pulang ke rumah masing-masing…
Wow…meski cuman sebagai uploader gambar, senang bisa berpartisipasi di acara ini… mungkin tahun depan 24 hour comic day akan lebih seru lagi… semoga…  Good work Beng n akademi samali.

August 8th, 2006

UPDATE ARTWORK TERBARU

Book_cover_design_by_deadschool

Cover_illustration_by_deadschool

Calendar_design_by_deadschool_1

Blending_emotion_by_deadschool

Complete Artwork click Dead School Gallery

July 23rd, 2006

Bidadari Tengah Malam

Puisi dan Cerpen terbaru gw Selengkapnya di

http://www.arixx.blogdrive.com

BIDADARI TENGAH MALAM

Malam
sudah larut, rasa lelah dan kantuk membuatku begitu menikmati hangatnya kasur,
bantal dan ranjang yang empuk. Pelan-pelan sepasang mataku mulai terasa sangat
berat, sayup-sayup suara-suara merdu dari alam mimpi mulai memanggil-manggil
seolah keluar dari bibir bidadari dan peri yang menghuni alam antah berantah
tempatku berkunjung dalam lelap. Aku merasakan diriku sangat ringan seperti
kapas yang terbang tertiup semilir angin, sebentar lagi aku akan bertemu para
bidadari dan peri itu. Mereka begitu cantik dan manis kawan, ingin rasanya
untuk tetap terlelap tanpa pernah terjaga untuk tidak kembali menghadapi
penatnya pekerjaan sehari-hari yang membuat tulang-tulang dan badan ini makin
rapuh dan reot. Samar-samar senyum para bidadari itu mulai membuatku masuk
lebih dalam ke lorong kelelapan yang indah ini. Jari-jari tanganku berusaha
menyentuh bibir merah yang merekah basah itu. Sejengkal lagi ujung jariku
mengusap bibir basah dan membelai rambut hitam panjang lurus yang berkilauan
tertimpa cahaya…. Tapi tiba-tiba kurasakan sesuatu seperti aliran listrik
menyengat pusat kesadaranku, mataku terbuka mendadak dan bayangan
bidadari-bidadariku lenyap tanpa bekas. Kurasakan
badanku tak lagi seringan kapas dan rasa pegal di sekujur badan membuatku
seperti seonggok besi besar dan berat yang sudah karatan di atas ranjang.

Aku
terjaga, telepon genggam di meja berbunyi nyaring bergetar-getar. Dengan malas
dan menggerutu kuangkat benda yang telah membuyarkan semua bidadari dan peri
impianku ini. Kulihat sebuah nomor tak dikenal muncul di tampilan layar berwarna
biru menyala-nyala.

“Halo….,”
suaraku terdengar parau, sejenak hening beberapa saat sebelum terdengar suara
perempuan menyapa.

“Selamat malam, maaf boleh kita ngobrol
malam ini?”

“Oh, maaf ini siapa ya?”

“Bella.”

“Bella siapa ya?”

“Kamu siapa?” perempuan itu balik
bertanya.

“Eee.. panggil saja Don” aku agak
tergagap menjawabnya.

“Oke
Don, aku hanya ingin bercerita banyak denganmu malam ini”

“Tapi
maaf aku belum pernah mengenalmu Bella…”

“Aku
juga sama sekali tak mengenalmu Don”

“Oh,
tapi dari mana kamu tahu nomor ini?”

“Aku
hanya asal saja menekan nomor dan kebetulan saja ini nomor milikmu” perempuan
bernama Bella ini menjawab dengan enteng.

Dalam
hati aku mulai menggerutu, dengan enaknya perempuan iseng ini menelpon dan
membangunkanku dari mimpi indah bersama bidadari dan peri cantik, benar-benar
sial. Aku mulai berpikir untuk tidak melayani perempuan iseng ini dan segera
menutup telepon agar aku bisa kembali lelap untuk menemui para peri dan
bidadariku. Kasihan, mereka pasti sudah menungguku sekarang ini.

“Oke
deh Bella mungkin kamu bisa menghubungi nomor lain saja aku ngantuk” jawabku
sekenanya.

“Don,
tunggu…”

“Apa
lagi?”

“Don,
aku.. aku hamil…” suara itu mendadak menjadi lirih.

Sejenak
aku kaget dan terhenyak beberapa saat.

“Hamil?”
Aku tertegun.

“Aku
dalam masalah berat, aku hamil tanpa suami.”

“Oooh…kenapa kamu cerita padaku?”

“Karena aku tak mengenalmu.”

Mendadak rasa kantukku yang begitu hebat
hilang sama sekali, berganti rasa penasaran terhadap perempuan misterius yang
bernama Bella ini. Aku sama sekali tak pernah membayangkan sebelumnya,
terbangun tengah malam dan menerima telepon nyasar dari perempuan yang tidak
kukenal sama sekali dan dengan tiba-tiba pula dia menceritakan masalah
pribadinya tanpa basa-basi.

“Sudah berapa bulan kehamilanmu?” Aku
coba bertanya.

“Satu setengah bulan.”

“Lantas apa rencanamu sekarang?”

“Aku sudah minta pertanggungjawaban
laki-laki itu, tapi dia sama sekali tidak peduli bahkan keluarganya mengusirku, aku sangat-sangat kecewa.”

Kemudian dia bercerita tentang
hubungannya dengan laki-laki itu. Perkenalan mereka diawali di sebuah klab
malam. Laki-laki itu begitu hangat dan memesonanya, dia sendiri bercerita
padaku bahwa dia pernah tidur dengan beberapa lelaki sebelumnya, bahkan pernah
menjadi simpanan om-om yang doyan daun muda. Entah kenapa dia begitu terpikat
dengan laki-laki yang ternyata masih anak kuliahan dan sanggup membuatnya tidak
lagi tidur dengan laki-laki lain bahkan om-om kaya raya sekalipun.

“Kau
mencintainya?”

Aku
mendengarnya menghela nafas panjang, seolah beban yang ada di dadanya sekarang
ini sangat-sangat menyesakkan.

“Hhhh
dulu… tapi sekarang aku tak tahu lagi…” suaranya pelan dan tertangkap sebuah
kegalauan dalam nada yang lirih dan putus asa.

“Bagaimana
dengan orang tuamu?”

“Mamaku
sedang sakit, sakit parah, aku tak ingin mamaku tambah sakit karena aku hamil
begini”

“Papamu?”

“Papaku
tidak akan menerima aku!” Nada suaranya mulai meninggi.

“Oooh….”
aku seperti kehilangan kata-kata entah iba atau terkesima mendengarnya.

“Aku tak akan pulang ke orang tuaku lagi!” Suaranya bergetar menahan marah dan tangis.

“Kenapa?”

“Aku
benci mereka…” kini suaranya datar tanpa emosi.

“Benci?”
Aku semakin penasaran.

“Mereka
membunuh adikku.”

“Membunuh?”
Aku semakin
terkejut.

“Waktu itu, adikku hamil tiga bulan”

Kemudian dia menceritakan betapa marah orang tuanya
tehadap adiknya yang waktu itu masih sekolah di bangku smu. Dengan terbata-bata
dia mencoba mengingat kenangan pahit itu. Aku mendengarnya kata demi kata
seolah sedang menyimak sebuah pementasan monolog yang begitu getir. Suaranya
bergetar menceritakan penderitaan adiknya ketika dipaksa menggugurkan kandungan
oleh orang tuannya.

“Mereka memberikan arak cina yang sangat keras, adikku
dipaksa meminumnya…. dan bayi itu lahir dengan panjang hanya 15 sentimeter.”
terdengar sedikit isak tangis pedih di jeda kata-katanya.

Aku semakin hanyut dalam drama yang begitu mencekam dan
menyedihkan.

“Kemudian nyawa adikku tidak tertolong lagi, sejak itu
aku tak mau pulang ke rumah… aku benci mereka.”

Sejenak suasana hening setelah dia mengakhiri cerita
sedih tentang adiknya.
Malang sekali perempuan-perempuan ini. Mungkin
di tayangan sinetron kita sudah biasa menyantap suguhan cerita-cerita pilu
seperti ini. Sekarang aku merasakan cerita ini begitu dekat dan seolah sangat
nyata hadir di depanku.

“Sekarang kamu dimana Bella?”

“Aku sekarang ada di hotel di

kota

kelahiran laki-laki yang menghamiliku”

“Apa yang kamu lakukan di
sana?”

Kemudian dia kembali
bercerita kalau semua ini dia lakukan agar laki-laki itu mau bertanggung jawab.
Dengan uang pas-pasan dia menyusul laki-laki itu yang mendadak menghilang
setelah mendengar kehamilannya. Laki-laki itu pulang ke kota kelahirannya
dimana seluruh keluarganya tinggal.

“Tapi di sini aku
benar-benar dikecewakan, mereka semua menolakku,” dia terdengar pasrah. “Biarlah
kalau dia memang tak mau bertanggung jawab aku akan pergi kemanapun aku suka,
dimana aku bisa membesarkan anakku.”

“Terus kamu mau makan apa?
Apa kamu punya pekerjaan?”

“Tidak aku tidak punya pekerjaan apa pun, sampai detik
ini uangku tinggal

lima

puluh ribu tidak cukup untuk ongkos pulang, mungkin hp ku akan kujual setelah
selesai menelponmu.”

“Laki-laki itu bagaimana?”

“Dia hanya menaruhku di hotel ini dan meninggalkanku
tanpa memberiku makan, tanpa menjengukku sekalipun… aku tak tahu harus
bagaimana lagi.”

“Setelah
ini kamu mau pergi kemana?”

“Aku
masih punya teman di kota lain aku akan ke sana mungkin dia bisa menolongku.”

“Jika
temanmu itu tak bisa menolongmu?”

“Aku
akan menjual diriku pada laki-laki yang mau mengasihaniku.”

“Oooh..”
Aku kembali tak bisa berkata-kata.

“Biarlah
dosa ini aku tanggung sendiri dan demi anakku nanti aku akan bertahan.”

“Oooh..”
Aku benar-bernar tak tahu harus bicara apa.

Mendadak
hubungan telepon terputus, beberapa saat kutunggu ternyata dia tak menelponku
lagi. Aku terdiam pikiranku menerawang kosong. Kumain-mainkan hp dalam
genggamanku hingga akhirnya aku memutuskan untuk menelpon balik. Kuhubungi
nomornya yang masih terekam di hp , beberapa kali kuhubungi ternyata nomor yang
kutuju sudah tidak aktif lagi. Kuletakkan hp di atas meja dan kembali pikiranku
menerawang mengingat pembicaraan telepon dengan perempuan yang bernama Bella
beberapa saat yang lalu.

Menit demi menit berlalu hingga akhirnya rasa kantuk menyergapku untuk
menikmati kembali hangatnya kasur, bantal dan ranjang yang empuk. Bidadari dan
peri cantik kembali membayang dalam kantukku. Lambat laun aku terlelap dan
merasakan badanku seringan kapas mengikuti angin. Pasti ini saatnya untuk
kembali bertemu dengan bidadari dan peri cantik dalam lelap mimpiku. Samar-samar
aku mulai melihat sosok bidadari-bidadari itu, makin lama makin jelas aku
melihatnya. Ketika tubuhku melayang mendekat tiba-tiba jantungku seperti
berhenti berdetak. Kulihat dua bidadari berambut panjang dengan muka yang
pucat. Mata mereka kosong, bibir mereka tak lagi tersenyum. Bidadari itu
memegangi perutnya yang membuncit seperti sedang hamil tua sedangkankan bidadari
di sebelahnya menimang orok kecil tak bernyawa berlumuran darah dengan panjang
tak lebih dari 15 sentimeter, darah menetes membasahi paha hingga betisnya. 
Lagi-lagi aku hanya terpaku tak mampu bicara apa-apa.[..]